Ilmu Hayat Genetika



Resiko dibalik jagung transgenic

 
Rekomendasi jagung transgenic sebagai makanan aman dipersoalkan. Ilmuan asal Prancis menemukan tumor dan kerusakan organ tubuh tikus yang mengkonsumsinya. Tejo Wahyu Jatmiko, coordinator desa sejahtera : pada foto terdapat tikus dengan benjolan tumor. Hasil riset tim yang dipimpin Prof. Gilles-Eric Seralini dari Universitas Caen, Prancis.

Pemerintah Indonesia harus menjalankan prinsip kehati-hatian sesuai dengan protokol Cartagena tentang keamanan hayati “Tejo. Dan Tejo kepada wartawan dalam menyikapi komisi keamanan hayati yang merekomendasikan jagung varietas RR NK603 dan Bt Mon89034 aman sebagai pakan. Komisi yang bertanggungjawab kepada presiden pada awal September 2012 mengabulkan permohonan dari proponen (pemilik benih), perusahaan trasnasional Monsanto.

Tejo” permohonan itu dinilai premature karena hanya didasari laporan proponen. Pengujian juga dilakukan diluar Indonesia, dengan sampel mencit yang diberi makanan selama 90 hari. Perusahaan pengusul langsung tidak ada dampak buruk terhadap kesehatan. Tejo” Komisi Keamanan Hayati melihat hasil penelitian Gilles-Eric Serralini yang dilakukan dua kali pada 2009 dan 2012.

Penelitian ini mencit diberi makan NK603, varietas jagung Monsanto yang banyak tumbuh di Amerika Utara dan digunakan secara luas sebagai pakan dan pangan. Jagung itu juga digunakan sebagai bahan sereal untuk sarapan, tortilla, dan keripik. Dari kelompok mencit lainnya juga diberi minum cairan herbisida (Roundup Ready) produksi perusahaan yang sama.

Penelitian yang dipublikasikan International journal of Biological Science edisi 5 pada 2009 dan jurnal Amerika Serikat, food and Chemical Toxicology. Lebih dari 50 % mencit jantan dan 70% mencit betina menderita kematian prematur. Tikus yang diberiminum cairan herbisida mengalami peninggkatan ukuran tumor sebesar 200-300%.

Selain itu mencit juga menderita kerusakan hati dan ginjal di tubuh tikus yang diberi makan dan jejak Roundup. “Saya terkejut oleh dampak negatif yang ekstrim bagi kesehatan, Dr. Michael Antoniou, ahli biologi molecular di King College London, dan anggota CRIGEN (Commite of Research & Independent Information on Genetic Engineering) yang mendukung riset ini.

Antoniou membantah kesaksian Prof. Tom Saunders, kepala divisi penelitian ilmu dan gizi di King College London, dan Prof. Anthony Trewavas, ahli biologi sel University of Edinburgh. Saunders menyebut tikus yang digunakan study Sparague-Dawley sangat rentan terhadap sangat rentan terhadap tumor mammae, terutama ketika asupan makanan tidak dibatasi. Menurut Antoniou, tikus yang digunakan dalam studi ini juga sama dengan yang dipakai peneliti lainnya soal dampak makanan transgenik. Selain itu, percobaan setelah dua tahun oleh Prof. Gilles-Eric Seralini mengikuti pedoman internasional OECD, baik jumlah sample maupun metodologi risetnya.

Sebelumnnya Anthony Trewavas mengatakan kelompok kontrol riset itu tidak memadai untuk membuat pengurangan apapun. Selain itu, tidak ada nilainya jika tidak mengetahui tingkat variasi dalam kelompok kontrol. 

Dalam analisis transgenik terhadap pangan Indonesia harus melakukan sendiri. Dan pelepasan benih ke lapangan harus sesuai dengan UU No. 32 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Khususnya ketentuan soal Amdal dan Izin Lingkungan. “Rino Subagyo, legal policy Aliensi Desa untuk Sejahtera, pelaku usaha dan pemberi izin dapat diancam pidana kejahatan lingkungan .

Mencit yang trinfeksi firus.

Referensi
Untung Widyanto/GROCER/DAILYMAIL
Koran Tempo Jumat, 28 September 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Aksara Jawa